Showing posts with label SISTEM PERTAHANAN TUBUH. Show all posts
Showing posts with label SISTEM PERTAHANAN TUBUH. Show all posts

Kelainan Sistem Kekebalan Tubuh


Kelainan Sistem Kekebalan Tubuh terjadi jika sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi dengan baik. Ada kalanya sistem kekebalan tubuh ini bereaksi dengan molekul asing (antigen) dengan berlebihan. Beberapa contoh kelainan sistem kekebalan tubuh di antaranya adalah alergi, autoimunitas, dan AIDS.

1.    Alergi
Alergi merupakan respons sistem kekebalan tubuh yang hipersensitif untuk melawan antigen. Alergi dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya debu, bulu kucing, benang sari, dan makanan. Penyebab alergi disebut dengan  alergen.

Proses alergi dimulai ketika alergen masuk ke dalam tubuh. Ketika alergen masuk, antibodi IgE akan dibentuk seperti halnya sel memori B dan T. Antibodi yang dihasilkan akan berikatan dengan mastosit. Saat lgE mengikat alergen, mastosit akan melepaskan butir-butir halus yang disebut histamin. Efek dari pelepasan histamin tersebut dapat berupa bersin, hidung basah, dan mata berair.

Untuk lebih jelasnya, proses alergi terjadi sebagai berikut. Pertama, Alergen masuk ke aliran darah. Kedua, sel-sel B membentuk antibody. Ketiga, antibodi
menempel pada mastosit. Keempat, antibodi berikatan dengan antibody dan mastosit. Ke lima, histamin dilepaskan menyebabkan gejala alergi.

2.    Autoimunitas
Autoimunitas merupakan suatu keadaan sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi untuk menyerang sel tubuh yang lain, memperlakukannya seolah-olah bukan bagian dari tubuh. Hal ini disebabkan oleh kesalahan limfosit T dalam mengingat antigen.

3.    AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome  (AIDS), adalah penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus  (HIV). Gejala yang timbul pada penderita AIDS didahului dengan kelelahan, lemah, penurunan berat badan, demam, diare kronik, napas pendek, dan kelainan sel limfosit.

Virus HIV dapat ditularkan melalui transfusi darah, antara ibu penderita dan bayi yang dikandungnya, penggunaan jarum suntik, dan ditularkan secara seksual.



Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh


Berikut akan dijelaskan mekanisme sistem pertahanan tubuh ketika tubuh kita terkene luka. Pada dasarnya dalam sistem pertahanan tubuh terdapat beberapa tahap yaitu sistem pertahanan tubuh garis pertama, sistem pertahanan tubuh garis kedua, dan sistem pertahanan tubuh garis ketiga. Sistem pertahanan tubuh garis pertama dan kedua merupakan pertahanan tubuh nonspesifik dan sistem pertahanan tubuh garis ketiga merupakan sistem pertahanantubuh spesifik.

Sistem pertahanan tubuh garis pertama yang berperan adalah Kulit, Membran mukosa, Sekresi dari kulit dan membrane mukosa. Sistem pertahanan tubuh garis kedua meliputi Sel darah putih fagositik, Protein antimikroba, Respons peradangan. Sedangkan sistem pertahanan tubuh garis ketiga yang berperan adalah Limfosit dan Antibodi.

Ketika tubuh kita mendapatkan luka, maka selain reaksi pembekuan darah, tubuh juga dengan cepat melindungi bukaan pada luka dari infeksi bakteri dan mikroorganisme lainnya. Adanya luka secara langsung telah merusakkan sistem pertahanan tubuh nonspesifik.

Ketika terjadi luka, histamin dilepaskan oleh mast cell (mastosit), dan sel basofil yang tersebar di seluruh jaringan. Histamin yang diterima reseptor pada otot polos dan endotelium di dinding kapiler darah menyebabkan kapiler darah mengalami vasodilatasi (penambahan diameter), sementara vena menyempit. Hal ini menyebabkan kapiler darah menjadi lebih permeabel. Daerah tersebut akan terlihat memerah dan membengkak.

Selain mengeluarkan histamin, mastosit juga menghasilkan faktor kemotaksis untuk ‘menarik’ dan mengaktifkan eosinofil, neutrofil, dan monosit (sel fagosit), serta faktor pengaktif keping darah yang akan terlibat dalam proses pembekuan darah. Sel fagosit, baru akan terlihat di sekitar daerah luka setelah sekitar 30 sampai 90 menit kemudian.

Eosinofil berperan dalam menghambat dan mengurangi konsentrasi histamin yang dikeluarkan mastosit, agar tidak terjadi reaksi yang berlebihan. Jika terjadi infeksi oleh bakteri, maka neutrofil akan mengaktifkan lisosom. Lisosom melepaskan enzim lysozim yang akan mendegradasi bakteri dan sel-sel dari jaringan yang rusak di sekitar luka.

Monosit dan makrofag juga menghasilkan  endogenous pyrogen. Zat ini memberikan sinyal pada pengatur suhu di hipotalamus, untuk menaikkan suhu tubuh beberapa derajat. Kita menyebut situasi ini sebagai demam. Hal ini terjadi terutama jika infeksi yang diderita cukup berat. Naiknya suhu tubuh dimaksudkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau organisme patogen, agar lebih mudah dilumpuhkan. Respons tubuh ini dapat dikatakan sebagai respons sistem pertahanan tubuh nonspesifik dan belum melibatkan sel-sel limfosit.

Makrofag, yang jumlahnya hanya beberapa persen dari jumlah keseluruhan leukosit ini memainkan peranan penting. Makrofag memiliki protein MHC (macrophage’s histocompatibility complex) yang kemudian akan berikatan dengan antigen pada mikroba. Kompleks MHC-antigen ini kemudian dimigrasikan ke membran sel makrofag.

Sel limfosit juga turut serta dalam melumpuhkan mikroba yang masuk ke dalam tubuh, hanya saja dengan mekanisme yang berbeda. Sel limposit B dengan reseptor komplemen berikatan dengan antigen dari bakteri atau organisme patogen. Hal ini untuk mengenali antigen tersebut. Limfosit B akan membelah dan berdiferensiasi menjadi sel memori dan sel plasma. Sel plasma menyekresikan antibodi yang dapat melumpuhkan mikroba yang masuk ke dalam cairan tubuh (humor). Target operasi limfosit B adalah bakteri, virus yang berada di luar sel, jamur dan protista. Limfosit T membentuk sistem kekebalan seluler. Sel sitotoksik akan menempel pada sel yang sudah terinfeksi virus, sel kanker, atau sel asing yang ditransplantasikan ke tubuh.

Reseptor pada sel T penolong berikatan dengan kompleks MHC-antigen makrofag. Ikatan ini menyebabkan sel T penolong menghasilkan hormon interleukin yang menginduksi sel T penolong untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel memori. Sel T penolong juga dapat berikatan dengan sel limfosit B dan menginduksi (dengan bantuan hormon interleukin) sel limfosit B untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel memori dan sel plasma. Sel plasma akan menyekresikan antibodi.

Antibodi yang disekresikan sel plasma akan berikatan dengan antigen mikroba, untuk kemudian dapat dikenali oleh makrofag dan dicerna. Fenomena ini disebut  opsonic adherence (Opsin adalah istilah yang berarti "bersiap untuk makan") atau opsonisasi. Proses ini pada dasarnya adalah mekanisme penandaan sel mikroba pelumpuh antigen dengan antibodi.

Sel T sitotoksik juga dapat aktif membelah dan berdiferensiasi dengan bantuan hormon interleukin yang disekresikan dari sel T penolong. Sel sitotoksik mengenali sel-sel asing atau sel yang terinfeksi virus di dalam tubuh, kemudian menguraikan membran selnya dengan protein yang dihasilkannya. Hal ini sangat penting, karena antibodi tidak dapat menyerang patogen yang telah menginfeksi sel tubuh.

Sumber : Praktis Belajar Biologi Kelas XI, Pengarang Fictor Ferdinand dan Moekti Ariebowo


Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Respon Kekebalan Tubuh


Respons kekebalan tubuh terhadap kehadiran antigen dapat dibedakan atas dua cara, yaitu imunitas humoral dan imunitas seluler.

1.    Imunitas Humoral/ Kekebalan tubuh Humoral
Respons kekebalan tubuh humoral atau imunitas humoral melibatkan aktivitas sel B dan produksi antibodi yang beredar di dalam plasma darah dan limfa. Pembentukan antibodi ini dipicu oleh kehadiran antigen. Antibodi secara spesifik akan bereaksi dengan antigen. Antibodi umumnya tidak secara langsung menghancurkan antigen yang menyerang, namun antibodi terlebih dahulu akan mengikat antigen tersebut.

Terdapat beberapa cara antibodi menghancurkan patogen atau antigen, yaitu  netralisasi, aglutinasi, presipitasi, dan fikasasi komplemen (protein komplemen). Sebelum dijelaskan lebih lanjut silahkan simak gambar berikut ini.
 Klik untuk memperbesar Gambar

Netralisasi merupakan cara yang digunakan antibodi untuk berikatan dengan antigen supaya aktivitasnya terhambat (tidak aktif). Dengan demikian sel fagosit dapat mencerna bakteri tersebut.

Aglutinasi atau penggumpalan merupakan proses pengikatan antibodi terhadap  bakteri atau virus sehingga mudah dinetralkan. Antibodi memiliki minimal dua daerah ikatan (binding site). Cara ini memudahkan sel fagosit menangkap sel-sel patogen tersebut.

Presipitasi atau pengendapan merupakan pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut dalam cairan tubuh. Setelah diendapkan, antigen tersebut dikeluarkan dan dibuang melalui fagositosis.

Fiksasi komplemen dilakukan dengan cara antibodi yang berikatan dengan antigen akan mengaktifkan sistem komplemen (protein komplemen) untuk membentuk luka atau pori pada sel mikroba patogen. Pembentukan luka atau pori ini menyebabkan lisozim dapat masuk dan sel patogen tersebut akan hancur (lisis).

2.    Imunitas Seluler/ Kekebalan tubuh Seluler
Respon kekebalan tubuh selular melibatkan sel-sel yang bereaksi langsung terhadap sel-sel asing atau jaringan yang terinfeksi. Respon kekebalan tubuh seluler ini merupakan kekebalan yang ditunjang oleh sel T (Limfosit T).

Tugas utama imunitas seluler adalah untuk menghancurkan sel tubuh yang telah terinfeksi patogen, misalnya oleh bakteri atau virus. Masih ingatkan dengan Sel T (Limfosit T) dan jenis serta fungsinya? Kalau lupa silahkan lihat Disini kembali. Kalau sudah dibaca, perhatikan gambar berikut ini merupakan cara kerja dari sel T dalam menghadapi patogen.
 Klik untuk memperbesar gambar


Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Macam-Macam Kekebalan Tubuh


Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ketika antigen masuk ke tubuh dan berhasil melewati pertahanan tubuh nonspesifik, maka secara otomatis yang akan menghalang antigen tersebut selanjutnya adalah pertahanan tubuh spesifik. Pertahanan tubuh spesifik ini yang nantinya akan berhasil menghabisi antigen dan kemudian akan membentuk antibody. Sehingga ketika suatu saat antigen tersebut kembali menyerang tubuh kita, maka kita sudah mempunyai antibody yang sebelumnya dan tubuh menjadi kebal (imun).

Ada beberapa macam kekebalan tubuh yang kita bahas dalam postingan ini yaitu :

1.    Kekebalan tubuh Aktif
Kekebalan tubuh aktif merupakan kekebalan tubuh yang diperoleh dari dalam tubuh, karena tubuh membuat antibodi sendiri. Kekebalan aktif terdiri dari dua bentuk, yaitu kekebalan aktif alami dan kekebalan aktif buatan.

Kekebalan tubuh aktif alami  merupakan kekebalan tubuh yang diperoleh setelah tubuh menderita penyakit dan kemudian sembuh. Jika penyakit yang sama menyerang, maka tubuh tidak akan terserang karena sebelumnya sudah membentuk antibody. Contoh kekebalan tubuh aktif alami: Penyakit cacar.

Kekebalan tubuh aktif buatan merupakan kekebalan tubuh dengan cara memasukkan dengan sengaja pathogen tertentu sehingga tubuh menjadi kebal. Perlu diketahui bahwa pathogen yang dimasukkan kedalam tubuh kita sudah dilemahkan sebelumnya. Cara seperti ini biasa disebut dengan vaksinasi. Contoh kekebalan tubuh aktif buatan adalah : Vaksinasi campak dan polio.

2.    Kekebalan Tubuh Pasif
Kekebalan tubuh pasif merupakan kekebalan yang diperoleh bukan dari  antibodi yang disintesis dalam tubuh, melainkan tinggal memakainya saja. Kekebalan tubuh pasif ini dapat terjadi secara alami maupun buatan.

Kekebalan tubuh pasif alami adalah kekebalan yang diperoleh bukan dari tubuhnya sendiri, melainkan dari tubuh orang lain. Contoh kekebalan pasif alami : Kekebalan bayi yang diperoleh dari ibunya yaitu melalui air susu ibu (ASI) yang diberikan pada bayi. ASI pertama mengandung kolostrum yang mana di dalam kolostrum terkandung berbagai macam antibodi ibu yang melindungi bayi dari penyakit. Meskipun hanya bertahan untuk beberapa minggu, namun cukup untuk bayi hingga sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan baik.

Kekebalan tubuh pasif buatan adalah kekebalan yang  diperoleh dari antibodi yang sudah jadi dan terlarut dalam serum. Contoh kekebalan tubuh pasif buatan : pemberian serum pada penyakit rabies dan tetanus.

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.


Pertahanan Tubuh Spesifik (Kekebalan Tubuh)


Pertahanan tubuh spesifik disebut juga dengan Sistem Kekebalan Tubuh (Imunitas). Sistem ini bekerja bila pathogen berhasil melewati pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem kekebalan tubuh ini merupakan pertahanan garis ketiga dari sistem pertahanan.

Sistem kekebalan tubuh mempunyai ciri-ciri khusus (spesifik), yaitu mengingat dan mengenali mikroba patogen atau zat asing (antigen). Sistem kekebalan tubuh memiliki kemampuan untuk mengenali dan menghancurkan patogen dan zat asing tertentu.

Sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap antigen tertentu dengan mengaktifkan sel limfosit dan memproduksi protein khusus yang disebut antibodi. Sistem kekebalan tubuh mampu mengingat antigen yang pernah menyerang dan telah mempersiapkan diri lebih baik dan efektif jika patogen tersebut menyerang kembali.

Yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh adalah Sel Limfosit dan Antibodi. Sel limfosit terdiri dari Sel Limfosit B dan Limfosit T. Berikut akan dijelaskan secara detail pada point-point tersendiri.

  1. Limfosit
  2. Antibodi

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.


Limfosit B dan Limfosit T

Pada postingan kali ini akan dibahas mengenai Limfosit B dan Limfosit T. Berikut penjelasannya.

1.    Limfosit B (Sel B)
Limfosit B merupakan bagian dari sel darah putih (Leukosit). Limfosit B ini terbentuk dan dimatangkan di sumsum tulang. Dalam sumsum tulang, limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma dan sel limfosit B-Memori.

Sel plasma berfungsi bertugas menyekresikan antibodi kedalam cairan tubuh dan sel limfosit B-memori yang berfungsi menyimpan informasi antigen. Informasi ini disimpan dalam bentuk DNA yang dapat memproduksi antibodi yang cocok dengan antigen. Itu sebabnya kalau kita pernah menderita penyakit cacar, kita tidak akan terkena penyakit itu lagi karena limfosit B memori telah mengingat antigen tersebut.

2.    Limfosit T (Sel T)
Limfosit T dimatangkan di kelenjar timus. Di kelenjar timus, limfosit T juga berdiferensiasi menjadi  sel T sitotoksik (Killer), sel T penolong (helper), dan sel T supressor (penekan). Masing-masing dari ketiga jenis tersebut mempunyai tugas/ fungsi yang berbeda-beda.

Sel  T  sitotoksik (killer), berfungsi membunuh sel-sel yang terinfeksi, Sel ini dapat membunuh berbagai bibit penyakit, dan sel kanker. Sel T penekan mempunyai efek menstabilkan jumlah sel killer agar Sel killer tidak membunuh sel sel tubuh yang sehat. Sel T penolong (helper) membantu  zat antibodi dan sel B penghasil antibodi. Sel ini mengatur respons, kekebalan tubuh dengan cara mengenali dan mengaktifkan limfosit yang lain.

Baik limfosit B dan limfosit T akan masuk ke dalam sistem peredaran limfatik atau getah bening. Sel limfosit banyak terdapat pada sistem peredaran darah limfatik, sumsum tulang, kelenjar timus, kelenjar limfa, amandel (tonsil), darah, dan dalam sistem pencernaan. Perhatikan gambar berikut. 


Cara kerja sel T dengan sel B sebagai berikut.
1.     Antigen menginfeksi tubuh.
2.     Sel T mengenali antigen tersebut dan segera mengikatnya.
3.     Sel T sitotoksik atau pembunuh akan menghancurkan sel asing/antigen.
4.     Sel B di dalam organ-organ limfa mengeluarkan antibodi yang segera
5.     berinteraksi dengan antigen.


Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Antibodi


Sel Limfosit B dapat membentuk struktur protein khusus yang disebut antibodi. Protein khusus ini dimigrasikan ke bagian membran sel, kemudian berfungsi mengenali dan mengikat sel asing atau organisme asing yang ditemui, dan melumpuhkannya. Antibodi pada dasarnya adalah protein yang sangat spesifik yang terbentuk sebagai respons dari kehadiran antigen. 

Antibodi tersusun atas dua tipe rantai polipeptida yaitu rantai ringan (light chain) dan  rantai berat  (heavy chain). Struktur gabungan kedua rantai tersebut membentuk huruf Y. Di tengah-tengah ikatan rantai tersebut terdapat  daerah Hinge (Hinge Region) yang memungkinkan rantai-rantai polipeptida untuk bergerak. Setiap lengan dari antibody memiliki daerah pengikat antigen (antigen-binding site).

Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang berada pada fraksi-fraksi globulin serum. Fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan imunoglobulin atau disingkat Ig. Immunoglobin (disingkat Ig) dibagi menjadi lima kelas, yaitu IgA, IgD, IgE, IgG, IgM. Perhatikan gambar berikut ini.

IgM merupakan antibodi pertama yang disekresikan sebagai respons kekebalan tubuh. Setelah mengikat antigen, IgM memicu aktifnya protein komplemen. IgM juga dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan sehingga memudahkan fagositosis makrofag.

IgG mengaktifkan protein komplemen dan menetralkan banyak racun. Jumlah IgG paling banyak dan tahan lama. IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat melewati plasenta dan menjaga janin dengan kekebalan tubuh ibunya. IgG juga disekresikan dalam kolostrum.

IgA mencegah masuknya virus atau bakteri melalui jaringan epitel mukosa sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan juga pada air liur, air mata, dan kolostrum.

IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.

IgD tidak mengaktifkan sistem komplemen dan tidak dapat melewati plasenta. IgD diduga berfungsi dalam diferensi sel limfosit B menjadi sel plasma dan sel B memori.

Sumber : Buku Biologi XI Pengarang Fictor Ferdinand P dan Moekti Ariebowo.

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Sistem Pertahanan Tubuh Non Spesifik


Sistem pertahanan tubuh non spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh garis pertama yang ada dalam tubuh kita. Sistem pertahanan non spesifik ini tidak membedakan mikroorganisme patogen satu dengan yang lainnya. Patogen adalah mikroorganisme yang menyebabkan penyakit.

Sistem pertahanan tubuh non spesisfik ini bekerja pada saat ada suatu benda asing (antigen) yang masuk kedalam tubuh kita. Dalam hal ini biasa disebut infeksi yaitu masuknya organisme pathogen kedalam tubuh inangnya. Sistem pertahanan ini meliputi kulit dan membrane mukosa, Sel-sel fagosit, protein antimikroba.

  1. Kulit dan membrane Mukosa
  2. Sel-sel Fagosit
  3. Protein Antimikroba

Ketika tubuh terinfeksi oleh bakteri maka tubuh akan merespon dengan reaksi peradangan dan demam. Radang menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi. Radang ini bisa berupa bisul, bengkak dan radang.

Dengan adanya radang ini tubuh akan menjadi demam. Ketika demam suhu tubuh naik. Naiknya suhu tubuh ini disebabkan karena antigen dan sel-sel yang mati akan mengeluarkan zat pyrogen-exogen. Zat ini akan merangsang makrofag dan monosit mengeluarkan pyrogen-endogen yang akan merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh sehingga timbul perasaan dingin, menggigil, dan suhu tubuh yang meningkat.

Dengan suhu tubuh yang tinggi ini akan menguntungkan tubuh kita. Virus dan bakteri akan melemah dan mati pada suhu tinggi dan dengan suhu tinggi ini metabolisme sel-sel darah putih akan menjadi lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan. Akan tetapi ada efek negatif dengan adanya panas ini
Yaitu kepala menjadi pusing, kejang bahkan bisa terjadi kerusakan otak.

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Protein Antimikroba


Protein antimikroba disebut juga dengan sistem komplemen. Protein tersebut dapat secara langsung membunuh mikroorganisme ataupun mencegah reproduksinya. Protein antimikroba tersebut umumnya dalam darah dalam keadaan tidak aktif. Akan tetapi, apabila ada mikroba yang masuk ke dalam tubuh, glikoprotein dari permukaan sel mikroba tersebut akan mengaktifkan sistem komplemen ini.

Berikut ini adalah beberapa fungsi dari sistem komplemen yang telah aktif.
1.     Menghasilkan opsonin, yaitu suatu zat yang dapat melekatkan mikroba dengan leukosit sehingga memudahkan fagositosis.
2.     Menyebabkan pelepasan histamin oleh mastosit. Histamin menimbulkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan meningkatkan permeabilitas kapiler terhadap protein.
3.     Menimbulkan suatu reaksi pada membran sel mikroba berupa munculnya lubang pada membran. Peristiwa ini dapat mematikan bagi mikroba.

Selain sistem komplemen, terdapat kumpulan protein sebagai pertahanan nonspesifik yang disebut interferon. Interferon ini diproduksi oleh sel-sel yang terinfeksi oleh virus. Kemudian, interferon tersebut akan berikatan dengan reseptor membran plasma pada sel-sel yang sehat. Sel-sel sehat yang telah terikat dengan interferon tersebut akan membentuk suatu protein antivirus. Interferon tertentu untuk langsung membunuh dan menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus.

Sumber : BSE Biologi Pengarang Rikky Firmansyah dkk.

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Sel Fagosit


Sel fagosit ini merupakan garis pertahan kedua. Dalam hal ini jika ada antigen yang lolos dari sistem pertahanan tubuh pertama (Kulit, membrane mukosa dan sekresinya), maka antigen tersebut akan berhadapan dengan sel fagosit yang siap memakan antigen tersebut. Peristiwa memakan sel atau benda asing ini biasa disebut fagositosis. Sel Fagosit yang beperan dalam sistem pertahan tubuh adalah sel darah putih yaitu neutrofil dan monosit.

Neutrofil merupakan sel darah terbanyak dalam leukosit, yaitu sekitar 70%. Pada saat terjadi infeksi, sel-sel yang rusak mengeluarkan sinyal kimiawi yang menyebabkan neutrofil menuju sel tersebut. Neutrofil bekerja dengan cara memasuki jaringan yang terinfeksi, kemudian memakan dan merusak mikroba yang terdapat di sana.

Monosit hanya menyusun sekitar 5% dari leukosit. Cara kerja monosit hampir sama dengan cara kerja neutrofil. Perbedaannya, monosit akan berkembang menjadi makrofag setelah masuk ke dalam jaringan. Makrofag merupakan sel fagosit yang terbesar.

Selain neutrofil dan monosit, terdapat juga eosinofil yang berperan dalam pertahanan tubuh terhadap cacing parasit. Eosinofil bekerja dengan melawan parasit yang berukuran lebih besar, seperti cacing darah. Eosinofil dapat melepaskan enzim-enzim untuk merusak dinding eksternal dari parasit.

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.

Kulit dan Membran Mukosa


Kulit dan membrane mukosa merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap patogen. Kulit yang utuh terdiri atas epidermis yang tersusun atas sel-sel epitel yang sangat rapat. Kondisi ini menyulitkan mikroorganisme untuk masuk ke dalam tubuh. Selain kulit, membran mukosa yang melapisi saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran kelamin dapat menghalangi masuknya mikroba yang berbahaya.

Selain pertahanan fisik, kulit dan membran mukosa dapat berfungsi sebagai pertahanan kimiawi. Kulit dapat mensekresikan cairan dari kelenjar minyak dan kelenjar keringat yang akan memberikan suasana pH kulit antara 3–5. Suasana PH tersebut mencegah kolonisasi mikroorganisme di kulit.

Koloni mikroorganisme ini dapat pula dihambat oleh aktivitas air liur, air mata, dan sekresi mukosa yang membasahi permukaan epitelium. Sekresi ini mengandung  lisozim, yaitu suatu enzim yang dapat menguraikan dinding sel bakteri.

Demikian saya ucapkan terima kasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Silahkan kasih komentar jika ada yang hal-hal yang ingin ditanyakan tentang Materi dan Soal Biologi SMP SMA Rembang. Atau contact saya di no HP. 085641467626. Atau via email di co.gaul86@gmail.com.